//
you're reading...
MY JOURNAL

[MY] Ransel Membawa Bencana

Pada awal-awal tinggal di Jakarta, saya agak heran dengan perilaku orang-orang di Jakarta. Pada saat berangkat dan pulang kerja, saya selalu menggunakan Metro Mini (baca bis kota). Sebagian besar penumpang yang berdiri dan yang menggunakan tas ransel, memasang tas ranselnya di depan dada mereka. Bukan dipakai seperti pada umumnya yaitu di punggung. Padahal tas ransel kan bahasa kerennya adalah backpack, BUKAN chestpack..!

Setelah beberapa lama mengamati, akhirnya saya tahu juga alasannya. Pada intinya, alasan utamanya adalah agar tas selalu dalam pengawasan mata kita. Bila tas ransel dipasang di punggung, otomatis apapun yang terjadi dengan tas ransel tersebut di luar pengawasan mata kita.

Ada dua hal yang membuat kita TIDAK BOLEH menaruh tas ransel di punggung kita apabila naik transportasi umum. Pertama, hal tersebut dapat merugikan kita sendiri. Kedua, hal tersebut dapat merugikan orang lain.

Berikut pengalaman saya melihat penggunaan tas ransel di punggung.

  1. Suatu hari saya berangkat kerja. Seperti biasa, setelah men-stop Metro Mini saya memilih duduk di kursi panjang di bagian belakang Metro Mini.   Alasannya apa? Nanti deh, akan saya buat tulisan tersendiri mengenai alasan memilih duduk di bagian belakang. Maaf hehe..

Di kursi belakang tersebut duduk 3 orang penumpang, salah satunya adalah pekerja muda yang rapi jali wangi jempol kaki (sebut saja Mawar… eh) yang menggunakan tas ransel di punggungnya. Pemuda ini duduk seperti naik kendaraan pribadi saja. Biasanya penumpang bis kota selalu tahu diri dengan bergeser duduknya sedikit agar penumpang baru yang masuk bisa duduk. Berbagi tempat duduk istilahnya, namanya juga angkutan umum. Dia tetap aja duduk dengan posisi kaki lebar, tidak mau bergeser sedikit agar saya dapat duduk dengan layak. Jadinya saya terpaksa duduk sambil mengecilkan badan dan mendesakkan pantat saya ke bangku bis (sudah kebayang? ). Gak papa deh asal pantat nempel bangku juga lumayan…

Mendekati perempatan Pancoran, si pemuda ini bangkit dari duduknya. Oh rupanya dia mau turun. Begitu dia berdiri, tampak 2 orang laki-laki langsung mengapit pemuda ini. Satu di kanan, satu lagi di sebelah kiri. Bener-bener dipepet habis sehingga susah bergerak lagi. Hal ini tidak mencurigakan karena Metro Mini dalam keadaan full, penumpang yang berdiri juga berdesak-desakkan. Kejadian berikutnya adalah ada lagi satu laki-lagi yang bergerak ke belakang pemuda tadi dan mulai membuka resleting ransel pemuda tersebut. Dengan leluasa laki-laki ini melihat dan mengobok-obok ransel tersebut. Setelah mengambil “sesuatu” di ransel tersebut, si laki-laki tersebut menutup lagi resleting ransel si pemuda.

Ini pelajaran bagi saya, bila pemuda tadi berbuat baik (beramal) kepada saya / siapa saja dengan bergeser sedikit saja mungkin dia tidak akan terkena nasib sial tersebut. Saya percaya suatu perbuatan / amal baik dapat menghindarkan kita dari bencana / nasib sial. Selain itu saya juga malas nolong si pemuda itu akibat sikap songongnya. (#ketawa sambil keluar tanduk hahaha..)

  1. Kejadian berikutnya terjadi di bis Trans Jakarta.   Saat itu ada 5 pelajar SMA (laki-laki) yang berdiri di dekat pintu tengah Trans Jakarta. Mereka ngobrol dan bercanda. Ada salah satu anak yang badannya tidak bisa diam. Dia selalu menggerakkan badannya. Badannya bergerak seperempat putaran ke kiri dan ke kanan sepanjang perjalanan. Nah anak ini menggunakan tas ransel di punggungnya.   Tahu akibatnya gak? Apakah dipepet pencopet lagi? Tebakan anda salah !!

Ada bapak-bapak berusia 50 tahunan duduk di belakang anak ini. Ketika badan si anak ini berputar, otomatis tas ransel di punggungnya juga ikut bergerak dan menghantam apa saja di belakangnya. Nah kebetulan di belakang ransel tersebut adalah kepala si bapak tadi. Jadi sepanjang jalan saya seperti melihat seorang petinju sedang berlatih menghindarkan kepala dari pukulan lawan. Saya tidak tahu isi ransel anak tersebut. Kalau dia anak STM yang pulang praktek, mungkin dia memasukkan kunci inggris ke dalam ranselnya. Si Bapak bisa langsung berdarah-darah atau pingsan kalau kena hantam ranselnya.

Kasihan dengan keadaan itu, setelah sekitar 5 menit melihat latihan tinju itu, saya tepuk punggung si anak SMA dan memberitahu agar memindahkan ranselnya ke depan dadanya karena tas ranselnya mengenai kepala si bapak. Untung si anak nurut, kalau anak-anak SMA ini hobi tawuran seperti anak SMA Jakarta lainnya, bisa-bisa saya jadi black&blue dikeroyok mereka.

Dua kejadian tersebut adalah akibat ransel tidak berada dalam pengawasan mata ketika dipasang di punggung.

Biasanya yang melakukan hal ini adalah anak-anak SMP, SMA atau pendatang baru dari luar kota yang belum berpengalaman HP atau dompetnya kena copet di angkutan umum. Atau juga orang yang tidak peduli dengan keadaan sekitar dia, ransel dia menghantam kepala, badan, kemaluan orang mah bukan urusan dia…

Bagaimana sahabat traveler? Masih mau memakai ransel di punggung saat naik angkutan umum??

Iklan

About The Traveler Post

I am not a backpacker. I am not a flashpacker. I am not an exporer. I am just an ordinary traveler from Indonesia who want to see the world before die... This is my email = thetravelerpost@gmail.com; My Facebook = thetravelerpost@gmail.com; My Facebook fan page = the traveler post

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Statistik Blog

  • 147,826 hit
Follow the traveler post on WordPress.com

Hotel Murah di Agoda.com

DAFTAR ISI TRAVELER POST

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 19 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: