//
you're reading...
MY JOURNAL

[MY] Garuda Edisi “Back to Jadul”

Beberapa hari lalu, saya terbang menggunakan maskapai Garuda… iya Garuda.. Garuda Indonesian Airways itu loh (maaf sombong… bayar sendiri soalnya hehe..).   Waktu itu rutenya dari Surabaya ke Jakarta.

Pada saat check-in si mbak petugas check-in nya menawarkan mau duduk di sebelah mana. – Bisa minta di bagian depan dan di gang (isle) mbak? – Oh bisa mas.. (Ini yang saya suka kalau naik Garuda). Mengapa saya milih di gang? Karena saya terbang jam 22.50 dan sampai sekitar 00.05. Sementara besok pagi harus masuk kerja. Jadi saya harus duduk di bagian depan dan di posisi gang, agar saya bisa cepat turun pesawat dan dapat naik taxi pertama (tidak perlu antri lagi).

Tiket pun diprint.. Selesai menerima print-out tiket, saya hanya ngecek di tiket saya, apakah benar saya duduk di gang atau jangan-jangan diberi kursi dekat jendela… Ternyata saya diberi kursi H. Wah di H? Saya naik pesawat besar nih, kayak penerbangan internasional atau Garuda yang tujuan Bali. Asyik.. Saya suka naik pesawat besar karena landingnya lebih halus daripada yang kecil.

Saya segera menuju ruang tunggu dan di ruang tunggu tersebut saya baca lagi tiketnya. Ternyata nomor tempat duduk saya adalah 23 H. Wah payah nih si mbaknya, tadi kan pas nanya mau duduk di mana sudah saya jawab mau duduk di kursi depan. Kok diberi nomor 23, ini khan di bagian tengah belakang.   Buat apa juga nanya-nanya mau duduk di mana, kalau ternyata tetap diberi tempat duduk di tengah belakang. Sumpah serapah pun deras keluar dari mulut monyong saya.

Saya jadi ingat kalau mau makan siang di warteg yang ramai. Begitu datang ditanya pelayannya, mau makan apa mas. Misal saya jawab mau makan ayam goreng, sayur kangkung, orek tempe, krupuk, minumnya es teh manis. Sudah. Tunggu punya tunggu, belum muncul juga orderan makanan saya. 5 menit kemudian, datang lagi si pelayan dan bertanya dengan polosnya Mas mau makan ya? – Lha iya kan sudah pesen – Makan pakai apa Mas? – Grrrrrrr (rasanya pengen ngeremes-remes krupuk ampe hancur deh kalo begini).

Tiba waktunya boarding. Di lorong Garbarata… eh pada tahu Garbarata nggak??? Bagi yang belum tahu, nih saya kasih tahu. menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online, Garbarata adalah jembatan berdinding dan beratap yang menghubungkan ruang tunggu penumpang ke pintu pesawat terbang untuk memudahkan penumpang masuk ke dalam atau keluar dari pesawat. (Hehe.. maaf… becanda..saya juga baru tahu istilah ini..). Garbarata tuh Bahasa Inggrisnya Aerobridge atau Jetbridge. Biasa juga disebut “Belalai Gajah”.

Balik maning ke topik, di lorong Garbarata tersebut, saya sempet mengintip ke dinding kaca Garbarata. Saya lihat cat pesawat Garuda ini agak beda. Dia menggunakan cat motif garis garis warna oranye dan tulisan pesawat Garuda zaman dulu (disingkat zadul !). Dan pesawatnya bukan pesawat yang berukuran besar, biasa saja ukurannya.

Waktu antri masuk ke pesawat, saya sempat mendengar penumpang yang antri di depan saya bertanya pada pramugara mengapa cat motif pesawatnya beda. Sang pramugara menjawab pesawat ini dicat khusus dalam rangka ulang tahun Garuda pak. Setiap ulang tahun akan ada satu pesawat garuda yang dicat seperti ini (heran ??).

Pas berjalan melewati kelas bisnis ada lagi yang ganjal. Nomor tempat duduk penumpang di kelas bisnis dimulai dari nomor 5. Jadi seluruh nomor tempat duduk di kelas bisnis adalah 5, 6, 7 dan 8. Di sebelah kanan saya untuk urutan kursi sama seperti biasa yaitu A, B dan C. A berada di dekat jendela, B di tengah dan C di gang. Namun ketika melihat kursi di sebelah kiri saya, ada lagi kejanggalan. Karena urutan kursinya adalah H, I dan J. H berada di gang, I di tengah dan J berada di dekat jendela.

Oh terjawablah sudah pertanyaan saya tadi. Saya dapat kursi H tapi kok lihat pesawatnya nggak besar. Ternyata susunanya sengaja dibuat seperti itu.

Ternyata keterkejutan saya tidak berhenti sampai di situ. Apa lagi? Pada saat melintas kelas ekonomi, saya melihat nomor tempat duduknya langsung dimulai dengan nomor 21. Lha terus nomor 9 sampai dengan 20 di mana ya? Demikian juga urutan kursi D, E, F dan G di mana?

Karena nomor kursi saya 23 H, ya otomatis saya duduk di urutan ke-3 dari depan di kelas ekonomi. Wah ternyata si mbak petugas check-in sudah benar mengakomodir permintaan saya tadi. Maaf ya mbak, saya sudah sempat berburuk sangka kepada sampeyan hehe.. Lha salahnya sendiri pakai no urut kursi yang nyeleneh begitu.

Pengalaman dengan nomor kursi seperti itu juga pernah saya alami di pesawat yang berbadan besar beberapa tahun sebelumnya (tepatnya saya lupa). Saya dapat nomor 25 (anggap saja begitu). Waktu masuk pesawat saya pede aja dan tidak terlalu memperhatikan nomor kursi. Yang saya ingat nomor 25 biasanya berada di bagian tengah (masih mindset naik pesawat biasa). Sampai bagian tengah baru saya melihat nomor kursi, lho kok sudah nomor 40-an??  Ternyata pesawat yang saya naiki menggunakan sistem pengaturan nomor kursi yang sama dengan cerita saya di atas.  Terpaksa deh saya balik arah ke depan dan berjalan melawan arus penumpang yang antri di lorong pesawat. Sial !

Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa susunan urutan kursi dibuat seperti itu. Apakah seperti halnya motif cat di badan pesawat yang menggunakan versi Garuda zadul, yaitu pesawat ini adalah edisi khusus ulang tahun Garuda? Kalau ada yang tahu please tinggalkan koment di tempat yang telah disediakan di artikel ini ya.. Terima kasih !!

Iklan

About The Traveler Post

I am not a backpacker. I am not a flashpacker. I am not an exporer. I am just an ordinary traveler from Indonesia who want to see the world before die... This is my email = thetravelerpost@gmail.com; My Facebook = thetravelerpost@gmail.com; My Facebook fan page = the traveler post

Diskusi

7 thoughts on “[MY] Garuda Edisi “Back to Jadul”

  1. Halo Mas, penomoran kursi mengacu pada pembagian kelas yang disetarakan dengan wide body.

    Untuk livery, GA pada armada 737-800 nya memiliki 2 special livery yang bernuansa “retro” yakni pada PK-GFM dan PK-GFN. Kalau melihat cerita Mas, sepertinya Mas terbang dengan GFN.

    Cheers. ^^

    Suka

    Posted by Siswanto Tri Utomo | 23 Juli 2015, 8:18 am
    • Untuk update terbaru, silakan kunjungi alamat kami yang baru : http://traveler-post.com

      Terima kasih banyak Mas Siswanto Tri Utomo sudah mampir ke blog kami dan repot-repot memberikan penjelasan.. 🙂

      Sedikit pertanyaan, apakah penomoran kursi (tidak ada kursi no 9 – 20 dan D, E, F, G) seperti itu adalah standar internasional atau standar Garuda saja? Soalnya hal yang sama tidak kami temui di Air Asia, Lion ataui Citilink.

      Terima kasih.

      Suka

      Posted by The Traveler Post | 23 Juli 2015, 4:15 pm
      • Begini alasan penomoran mulai dari 21. Dulunya Garuda juga sprt brand lain yg nomor seat-nya mulai dari 1. Tetapi, sekitar tahun 2009 atau 2010, Garuda mulai memberlakukan sistem penomoran ini. Kenapa?

        Garuda memiliki pesawat badan lebar yg kebanyakan digunakan untuk jalur gemuk domestik dan jalur internasional. Nah, pada pesawat berbadan lebar tsb, nomor2 awal (1, 2, 3, dst) itu digunakan utk penomoran kelas di atas economy class (first dan bisnis), sedangkann economy class pesawat lebar mulai dr nomor 21. Oleh krn itu, nomor economy seat dari pesawat kecil garuda juga disesuaikan dgn yg di pesawat berbadan lebar tsb. Bbrp nomor tidak akan ada di pesawat badan kecil krn di pesawat badan kecil tdk tersedia fasilitas first class dan kursi bisnis classnya pun terbatas.

        Pertimbangan Garuda utk menyamakan nomor seat salah satunya adalah utk mempermudah proses penggantian pesawat di saat darurat. Misalnya di saat rute yg seharusnya dilayani dgn pesawat berbadan kecil, eh ternyata pesawat berbadan kecil yg ditentukan tiba2 sedang mengalamai gangguan dan ternyata pula pesawat yg nganggur cuma jenis pesawat lebar. Ya terpaksa rute tsb harus dijalankan dgn pesawat berbadan lebar. Maka saat dialihkan nanti dr pesawat kecil ke pesawat lebar, nomor seat nya tersinkronisasi. Andaikan saja pesawat kecil kelas economy nya mulai dr nomor 1 dan ternyata saat pjndah ke pesawat gede nomor 1 nya adalah first class, kan jadinya ribet dan susah. Ntr para penumpang malah duduk di bagian first class pdhal bayarnya economy class hehe

        Semoga penjelasannya bisa dipahami.

        Suka

        Posted by Vin | 14 Agustus 2015, 12:47 am
  2. Cuma mau menambahkan comment milik Vin yang sebagian besar sudah benar

    Untuk huruf I hampir sebagian besar tidak menggunakan karena ditakutkan akan rancu dengan angka 1 jadi yang digunakan adalah HJK.atau HK tergantung jenis susunan kursinya.

    Penomoran kursi memang berbeda-beda setiap airlines.contoh ada beberapa airlines yang tetap menggunakan angka 4 13 14.ada juga yang tidak.

    Untuk Garuda lengkapnya bisa dilihat di
    https://id-id.facebook.com/notes/garuda-indonesia/garuda-indonesia-terapkan-pola-baru-penomoran-kursi-di-pesawat/587063388075054/

    Suka

    Posted by Dika | 4 November 2016, 2:43 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Statistik Blog

  • 139,448 hit
Follow the traveler post on WordPress.com

Hotel Murah di Agoda.com

DAFTAR ISI TRAVELER POST

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 19 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: